Selasa, 10 Juni 2014

Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar



Pengaruh Suku Bunga Terhadap Nilai Tukar Mata Uang
Suku bunga merupakan tolak ukur dari kegiatan perekonomian suatu negara yang berimbas pada kegiatan perputaran arus keuangan perbankan, inflasi, investasi dan pergerakan mata uang di suatu negara.
Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebut apabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersebut disebut "pokok utang" (principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut "suku bunga"
Perlu diketahui biasanya negara-negara besar seperti Amerika, Inggris dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa merupakan negara yang memiliki currency terbesar dalam transaksi di bursa. Aktivitas ekonomi yang terjadi di negara-negara memiliki pengaruh fundamental terhadap perekonomian dunia.
Grafik 1.
Efek Kenaikan Tingkat Suku Bunga Terhadap Mata Uang Domestik

Sumber : Krugman,Paul.2000.International Economics Theory and Practice.p 353
Kenaikan dalam tingkat suku bunga / return mata uang domestik dari  menjadi menyebabkan mata uang domestik terapresiasi dari (poin 1) ke (poin 2).

Grafik 2.
Efek Kenaikan Tingkat Pengembalian Mata Uang Asing
 

Sumber: Krugman,Paul.2000.International Economics Theory and Practice.p 353
Kenaikan dalam return deposito mata uang asing menyebabkan mata uang domestik terdepresiasi dari (poin 1) ke (poin 2). Hal ini juga juga menggambarkan efek dari kenaikan ekpektasi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing.

Maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan dalam ekspektasi nilai tukar menyebabkan kenaikan atas nilai tukar saat ini. Begitu juga, penurunan ekpektasi nilai tukar akan menyebabkan penurunan nilai tukar saat ini.



Tabel 8: Nilai Tukar Negara ASEAN Terhadap USD, Tahun 2009- 2013* (yoy, dalam %)
Nilai Tukar Mata Uang Negara ASEAN Cenderung Melemah
Sumber: Bloomberg (2013)

* = 30 Agustus 2013
(Catatan: Myanmar pada tahun 2012 mengalami penyesuaian nilai mata uang)



Gambar 21 : Tingkat Inflasi Negara Anggota ASEAN Tahun 2000-Agustus 2013  (yoy, dalam %)
Tekanan inflasi meningkat
Sumber: Bloomberg (2013)
(Catatan: Myanmar pada tahun 2001 mengalami inflasi 53,8% dan pada tahun 2002 mengalami inflasi 54%)

Tingkat inflasi pada negara-negara ASEAN hingga bulan Agustus 2013 cenderung meningkat terutama untuk negara Indonesia (8,79%), Vietnam (7,50%) dan Laos (7,43%). Indonesia mengalami tekanan tinggi pada inflasi terutama diakibatkan dari terganggunya pasokan sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, daging sapi dan daging ayam serta momentum penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdekatan dengan hari besar keagamaan serta tahun ajaran baru pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi. Sementara inflasi tinggi yang terjadi di Vietnam terutama didorong oleh dampak penuh dari implementasi penyesuaian harga BBM yang dilakukan pada bulan Agustus 2013 diiringi dengan peningkatan biaya oleh otoritas terkait pada biaya kesehatan, biaya pendidikan, biaya air rumah tangga serta biaya transportasi umum. Kebijakan bank sentral yang lemah diiringi dengan pelayanan perbankan umum yang masih sangat terbatas menyebabkan aktivitas perbankan yang dapat menjadi penyeimbang terhadap kecenderungan peningkatan harga menjadi berjalan tidak optimal di Vietnam. Lonjakan tingkat inflasi di beberapa negara utama di ASEAN ini ditindaklanjuti dengan berbagai kebijakan moneter oleh bank sentral masing-masing negara serta kebijakan price pegging oleh otoritas terkait pada beberapa sektor di Vietnam terutama pada biaya layanan kesehatan.



Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar