Pengaruh
Suku Bunga Terhadap Nilai Tukar Mata Uang
Suku bunga
merupakan tolak ukur dari kegiatan perekonomian suatu negara yang berimbas pada
kegiatan perputaran arus keuangan perbankan, inflasi, investasi dan pergerakan
mata uang di suatu negara.
Bunga adalah
imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepada
pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebut apabila
diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersebut disebut "pokok utang"
(principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa
(bunga) dalam suatu periode tertentu disebut "suku bunga"
Perlu diketahui biasanya negara-negara besar seperti Amerika, Inggris dan
negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa merupakan negara yang memiliki
currency terbesar dalam transaksi di bursa. Aktivitas ekonomi yang terjadi di
negara-negara memiliki pengaruh fundamental terhadap perekonomian dunia.
Grafik 1.
Efek Kenaikan Tingkat Suku Bunga Terhadap Mata
Uang Domestik
Sumber : Krugman,Paul.2000.International
Economics Theory and Practice.p 353
Kenaikan
dalam tingkat suku bunga / return mata uang domestik dari menjadi
menyebabkan mata uang domestik terapresiasi dari (poin 1) ke (poin
2).
Grafik 2.
Efek Kenaikan Tingkat Pengembalian Mata Uang Asing
Sumber:
Krugman,Paul.2000.International Economics Theory and Practice.p 353
Kenaikan dalam return deposito mata uang asing menyebabkan mata uang
domestik terdepresiasi dari (poin 1) ke (poin 2). Hal ini juga juga
menggambarkan efek dari kenaikan ekpektasi nilai tukar mata uang domestik
terhadap mata uang asing.
Maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan dalam ekspektasi nilai tukar menyebabkan kenaikan atas nilai tukar saat ini. Begitu juga, penurunan ekpektasi nilai tukar akan menyebabkan penurunan nilai tukar saat ini.
Maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan dalam ekspektasi nilai tukar menyebabkan kenaikan atas nilai tukar saat ini. Begitu juga, penurunan ekpektasi nilai tukar akan menyebabkan penurunan nilai tukar saat ini.
Tabel 8: Nilai Tukar
Negara ASEAN Terhadap USD, Tahun 2009- 2013* (yoy, dalam %)
Nilai Tukar Mata Uang Negara ASEAN Cenderung Melemah
Nilai Tukar Mata Uang Negara ASEAN Cenderung Melemah
Sumber: Bloomberg (2013)
* = 30 Agustus 2013
(Catatan: Myanmar pada tahun 2012 mengalami penyesuaian nilai mata uang)
Gambar 21 : Tingkat Inflasi Negara Anggota ASEAN Tahun 2000-Agustus 2013 (yoy, dalam %)
Tekanan inflasi meningkat
Sumber: Bloomberg (2013)
(Catatan: Myanmar pada tahun 2001 mengalami inflasi 53,8% dan pada tahun 2002 mengalami inflasi 54%)
(Catatan: Myanmar pada tahun 2001 mengalami inflasi 53,8% dan pada tahun 2002 mengalami inflasi 54%)
Tingkat inflasi pada negara-negara ASEAN hingga bulan Agustus 2013 cenderung meningkat terutama untuk negara Indonesia (8,79%), Vietnam (7,50%) dan Laos (7,43%). Indonesia mengalami tekanan tinggi pada inflasi terutama diakibatkan dari terganggunya pasokan sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, daging sapi dan daging ayam serta momentum penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdekatan dengan hari besar keagamaan serta tahun ajaran baru pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi. Sementara inflasi tinggi yang terjadi di Vietnam terutama didorong oleh dampak penuh dari implementasi penyesuaian harga BBM yang dilakukan pada bulan Agustus 2013 diiringi dengan peningkatan biaya oleh otoritas terkait pada biaya kesehatan, biaya pendidikan, biaya air rumah tangga serta biaya transportasi umum. Kebijakan bank sentral yang lemah diiringi dengan pelayanan perbankan umum yang masih sangat terbatas menyebabkan aktivitas perbankan yang dapat menjadi penyeimbang terhadap kecenderungan peningkatan harga menjadi berjalan tidak optimal di Vietnam. Lonjakan tingkat inflasi di beberapa negara utama di ASEAN ini ditindaklanjuti dengan berbagai kebijakan moneter oleh bank sentral masing-masing negara serta kebijakan price pegging oleh otoritas terkait pada beberapa sektor di Vietnam terutama pada biaya layanan kesehatan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar