Rabu, 30 April 2014

TINGKAT KESEJAHTAERAAN BEBERAPA PROVINSI DI INDONESIA



TINGKAT KESEJAHTAERAAN  BEBERAPA PROVINSI DI INDONESIA

PERBANDINGAN KESEHATAN PADA TAHUN 2011-2012
 

PENGANGURAN.

1.Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
 
Pengangguran Terbuka. Jumlah pengangguran Terbuka di Provinsi Aceh pada tahun 2013 (Februari) mencapai 177.800 jiwa, meningkat sebanyak 6.388 jiwa dari tahun 2008. Sementara kondisi tingkat pengangguran di Provinsi Aceh tergolong masih tinggi dibandingkan terhadap tingkat pengangguran nasional, pada tahun 2013 tercatat TPT sekitar 8,38 persen. Sementara untuk perkembangan TPT tahun 2012 tertinggi yaitu di Kabupaten Aceh Utara mencapai sebesar 15,47% dan terrendah sebesar 1,41 % di Kabupaten Bener Meriah.
2. Provinsi Sumatera Barat.
Pada saat yang bersamaan, jumlah pengangguran terbuka justru bertambah 4.290 orang menjadi sebanyak 151.260 orang, sehingga mengakibatkan tingkat pengangguran terbuka naik menjadi 6,33%.
Angka tersebut sekaligus menempatkan Sumatra Barat sebagai provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka paling tinggi ke-9. Tingkat pengangguran terbuka di Sumatra Barat masih jauh di atas rata -rata nasional yang 5,92%.


Keterangan
2012
2013
Angkatan Kerja
2.350.000
2.390.000
Bekerja
2.200.000
2.240.000
Pengangguran Terbuka
146.970
151.260
TPT  (%)
6,25
6,33
 


3. Provinsi Sumatera Utara

Sumatra Utara mencatat penurunan tingkat pengangguran terbuka per Februari 2013 menjadi hanya 6,01% dari setahun sebelumnya 3,31%. Provinsi ini menempati peringkat 10 sebagai provinsi paling tinggi tingkat pengangguran terbuka (TPT).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, penurunan tingkat pengangguran terbuka ini seiring dengan penurunan jumlah angkatan kerja di provinsi ini pada Februari 2013 menurun dari sebelumnya 6,56 juta orang menjadi hanya 5,45 juta orang.
Jumlah pengangguran terbuka berkurang di saat jumlah warga yang bekerja juga mengalami penurunan.
Struktur perekonomian Sumatra Utara masih didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu sektor industri pengolahan, sektor pertanian, dan sektor PHR. Kombinasi ketiga sektor tersebut memberikan sumbangan 61,54%. Ketiga sektor utama tersebut masih menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Sumut.
Berikut ini adalah data angkatan kerja, dan pengangguran di Sumatera Utara, per Februari.

Keterangan
2012
2013
Angkatan Kerja
6.560.000
6.450.000
Bekerja
6.140.000
6.060.000
Pengangguran Terbuka
413.640
387.870
TPT  (%)
6,31
6,01
 
4. Provinsi DKI Jakrta.

Pengangguran Terbuka. Jumlah pengangguran Terbuka di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2013
(Februari) mencapai 513,2 ribu orang menurun dibanding tahun 2008 (580.5 ribu orang) atau berkurang
sebanyak 67,3 ribu orang. Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam periode tahun 2008-
2013 penurunan sebesar 2,22 persen, TPT DKI Jakarta tahun 2013 sebesar 9,94 persen lebih rendah
dibandingkan TPT tahun sebelumnya. Namun kondisi TPT DKI Jakarta masih tergolong tinggi dibandingkan
terhadap rata-rata TPT nasional. Sementara untuk TPT tahun 2012 terbesar terdapat di Kabupaten Adm. Kep.
Seribu (13,97%) dan terendah di Kota Jakarta Selatan (8,96 %).

6. Provnsi Jawa Timur
Keadaan ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Agustus 2013 digambarkan dengan meningkatnya
jumlah angkatan kerja maupun jumlah penduduk yang bekerja tetapi belum dapat menurunkan tingkat
pengangguran. Diduga tenaga kerja yang diserap masih lebih sedikit dibanding derasnya pertambahan
angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja bertambah sekitar 280 ribu orang dalam kurun waktu setahun
(Agustus 2012 - Agustus 2013). Penduduk yang bekerja bertambah 230 ribu orang dibanding keadaan
setahun yang lalu. Sementara jumlah penganggur justru bertambah sebanyak 77 ribu orang jika dibanding keadaan setahun sebelumnya.
Indikator utama ketenagakerjaan yang sering digunakan sebagai indikasi keberhasilan dalam
menangani masalah pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang merupakan
perbandingan antara jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) di Jawa Timur sejak Februari 2012 sampai Februari 2013 mengalami penurunan yang cukup
lambat yaitu dari 4,13 persen mencapai 4,00 persen. Akan tetapi menjadi meningkat secara signifikan
pada kurun waktu antara Agustus 2012 sampai Agustus 2013, yaitu sebanyak 0,21 persen. Hal ini diduga
karena banyak terjadi pengurangan tenaga kerja pada beberapa perusahaan besar. Salah satunya PT.
Gudang Garam Kediri merumahkan sebanyak kurang lebih seribu orang karyawannya pada bulan Juli
2013, kemudian banyak terjadi unjukrasa buruh untuk menuntut kenaikan upah minimum menyebabkan
sentimen negatif tentang jaminan keamanan dan investasi biaya tinggi yang akhirnya menyebabkan
investor memindahkan investasinya ke tempat lain.
 

7. Provinsi Jawa Tengah

Pengangguran Terbuka. Jumlah Pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2013
(Februari) mencapai 941.400 jiwa menurun dibanding tahun 2008 (1.227.308 orang) atau berkurang sebanyak
285.900 jiwa. Sementara untuk perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), TPT Provinsi Jawa
Tengah tahun 2013 sebesar 5,57 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (5,63%), tingkat
pengangguran Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan terhadap TPT nasional. Penyebaran TPT tahun 2012
terbesar di Kabupaten Pati, yaitu sebesar 12,20 persen dan TPT terendah di Kabupaten Purworejo (3,28 %).
 

8. Provinsi DIY Yogyakarta.

Pengangguran Terbuka. Jumlah pengangguran terbuka di Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2013
(Feb.) mencapai 72.500 ribu jiwa atau menurun sebesar 35.029 ribu jiwa dari tahun 2008. Sementara untuk
perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), TPT Provinsi D.I. Yogyakarta tahun 2013 (Feb.) sebesar
3,80 persen sama lebih rendah dibandingkan TPT nasional. Penyebaran TPT tahun 2012 terbesar di
Kabupaten Sleman yaitu sebesar 5,42 persen dan TPT terrendah di Kabupaten Gunung Kidul (1,92 %).

9. Provinsi Banten.

Tingkat pengangguran terbuka pada periode yang sama juga mengalami penurunan yaitu dari 10,13 persen menjadi 9,90 persen atau turun sekitar 0,23 poin," katanya.
Jumlah angkatan kerja di Banten pada Agustus 2013 mencapai 5.146,3 ribu orang atau meningkat sekitar 21,2 ribu orang bila dibanding angkatan kerja Agustus 2012, yaitu sebesar 5.125,1 ribu orang.
Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja di Banten pada Agustus 2013 mencapai 4.637,0 ribu orang atau bertambah sekitar 31,2 ribu orang bila dibanding keadaan pada Agustus 2012 sebesar 4.605,8 ribu orang.
Pada Agustus 2013, penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sekitar 1.807,3 ribu orang (39,0 persen), sedangkan penduduk bekerja dengan pendidikan SLTA ke atas sekitar 526,2 ribu orang yang terdiri dari pendidikan diploma sekitar 143,2 ribu orang (3,1 persen) dan penduduk yang bekerja dengan pendidikan universitas sebesar 383,0 ribu orang (8,3 persen).

10. Provinsi Kalimat Barat.

Jumlah pengangguran pada Februari 2012 mencapai 75.762 ribu orang atau 3,7 persen dari total angkatan kerja. Secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana TPT Februari 2011 sebesar 5 persen turun 1,6 persen jika dibandingkan Februari 2012 persen. Untuk keadaan Februari 2012, TPT tertinggi ada pada pendidikan S-1/Sarjana yaitu sebesa 15,5 persen , seedangkan pengangguran terendah ada pad pendidikan SD kebawah sebesar 1,8 persen.
Untuk pendidikan SMU dan SMK (Februari 2012) tingkat penganggurannya hampir sama yaitu 6,6 persen untuk SMU dan 6,7 persen untuk SMK. Pengangguran untuk lulusan SMP lebih kecil dibanding SMU dan SMK yaitu sebesar 3,1 persen.



ingkat pengangguran di provinsi Kalimantan Tengah yang tercatat pada Februari 2013 sebesar 1,82 persen, dan ini merupakan angka paling rendah secara nasional menurut data Badan Pusat Statistik setempat.

Angka pengangguran di provinsi Kalteng yang diperoleh ANTARA di Palangka Raya, Senin (6/5/2013) bahwa jumlah pengangguran tercatat jauh lebih rendah dibanding angka pengangguran secara nasional yang mencapai 5,92 persen pada Februari 2013.

Dibanding tiga provinsi di Kalimantan, tingkat pengangguran Kalteng lebih rendah 1,27 persen dari Kalimantan Barat yang mencapai 3,09 persen pada Februari 2013, disusul Kalimantan Selatan 3,91 persen dan Kalimantan Timur tertinggi, yakni 8,87 persen.

BPS juga mencatat angka pengangguran periode yang sama tahun 2012 di Kalteng paling rendah dibanding tiga provinsi di Kalimantan.

Tingkat pengangguran di Kalteng pada Februari 2012 sebesar 2,71 persen, kata Kepala BPS Panusunan Siregar.

Menurut data statistik Februari 2012, tingkat pengangguran secara nasional mencapai angka 6,32 persen dan angka pengangguran tertinggi periode yang sama terjadi di Kalimantan Timur, yakni sebesar 9,29 persen.

Jumlah pengangguran terbuka di Kalteng pada Februari 2013 21.077 orang. Angka ini cenderung menurun dibanding sebelumnya, dan tingkat tertinggi didominasi usia kerja pendidikan Diploma I, Diploma II, dan Diploma III, mencapai 3,55 persen.

Tingkat pengangguran lulusan Sekolah Dasar 1,87 persen, sedang tingkat pendidikan SMP dan SMA berada diposisi 1,72 persen. Tingkat pengangguran terendah terdapat pada kelompok pendidikan universitas, yakni 1,08 persen.

Dibanding Februari 2012, tingkat pengangguran berpendidikan SD menurun sebesar 0,36 persen. Demikian juga lulusan SMA turun sebesar 3,56 persen. Ini merupakan angka penurunan tingkat pengangguran tertinggi pada periode tersebut.

Sementara pengangguran berpendidikan universitas juga turun 1,91 persen dibanding Februari 2012. Sedang kelompok pendidikan lainnya, yakni Diploma dan SMP mengalami kenaikan, masing-masing 1,78 persen dan 0,31 persen pada Februari 2013.

12. Provinsi Papua.
jumlah pengangguran di Provinsi Papua pada Agustus 2011 mencapai 60.501 orang atau 3,94 persen dari total angkatan kerja. Sedangkan jika dilihat dari indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), maka selama setahun terakhir TPT mengalami kenaikan yaitu dari 3,55 menjadi 3,94.

Jumlah penduduk yang bekerja mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya (Februari 2011, mengakibatkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami penurunan. Tercatat TPAK Papua sebesar 78,45 persen pada Agustus 2011,” ujar Djarot Soetanto.

Dibandingkan setahun yang lalu (Agustus 2010), katanya, jumlah penduduk yang bekerja mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak begitu besar, sehingga TPAK Papua dibandingkan Agustus 2010 turun sebesar 2,54 persen.

Sedangkan keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada semester kedua tahun 2011 menunjukkan adanya sedikit perbaikan yang digambarkan dengan adanya penurunan tingkat pengangguran. Jumlah angkatan kerja mencapai 117,4 juta orang turun sekitar 2,0 juta orang dibanding keadaan Februari 2011,” paparnya.

Dari informasi yang diterima Tabloidjubi.com, digambarkan bahwa penduduk yang bekerja pada Agustus 2011 berkurang sebesar 1,6 juta orang dibanding keadaan Februari 2011 karena pada bulan Februari 2011 adanya penambahan penduduk yang bekerja di sektor pertanian.

Jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja di Papua pada Agustus 2011 mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. Tercatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2011 mencapai 1.536.728 orang, berkurang 19.608 orang dibanding jumlah angkatan kerja Februari 2011 dan naik 80.183 orang dibanding angkatan kerja pada Agustus 2010,” ungkapnya.

Ditambahkan, Sedangkan jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2011 mencapai 1.476.227 orang, berkurang 22.227 orang dibandingkan Februari 2011 dan bertambah 19.682 orang dibanding keadaan setahun yang lalu (Agustus 2010).




Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Penyebab Ketimpangan Ekonomi

Berdasarkan data yang diperoleh terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian meningkat, namun tidak diiringi dengan penurunan Gini Ratio sehingga terjadi ketimpangan multi dimensi antar wilayah antar sektor antar kelompok pendapatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi  juga tidak dibarengi penurunan signifikan angka kemiskinan dan pengangguran, karena kue nasional terkonsentrasi pada kelompok 20% terkaya. Peningkatan pangsa kue dalam kelompok 20% terkaya dalam distribusi pendapatan nasional dibarengi  penciutan pangsa 40% penduduk termiskin. Usaha pemerintah sudah baik dengan menyebarkan  pembangunan, namun setelah 12 tahun otda, sasaran untuk mendekatkan pelayanan kemasyarakat dan memperbaiki akses penduduk miskin pada kebutuhan dasar secara umum belum tercapai. Ini tercermin dari tren angka kemiskinan di daerah. Menurut Erani Yustika, ketimpangan pembangunan berawal dari kesenjangan penguasaan aset, seperti modal dan lahan. Berdasarkan data BPN, ketimpangan lahan saat ini berada dikisaran 0,54 (Gini Ratio). Sekitar 70% asset ekonomi berupa tanah, tambak, kebun, dan property di Negara ini hanya dikuasi oleh 0,2% penduduk

 
Berani melihat pembangunan yang dijalankan Indonesia selama ini tidak menuju kearah yang  benar karena kebijakan yang diambil tidak focus dan sarat akan kepentingan kelompok. Agenda  pembangunan telah dibajak oleh kepentingan politik, sehingga pembangunan terkonsentrasi pada daerah atau golongan tertentu saja sehingga memunculkan kesenjangan kesejahteraan. Pemerintah  juga di dikte pihak luar dalam agenda – agenda pembangunan dan banyak agenda yang diambil kerap kali terlepas dari bingkai besar kebijakan nasional, contohnya kebijakan mobil murah. Masalah ketimpangan menurut Erani tidak pernah teratasi karena pemerintah lebih banyak  bermain ke hilir padahal masalah ketimpangan ada di hulu. Insentif kebijakan yang dibuat tak tersusun baik sehingga sektor-sektor terntu, seperti pangan dan non minyak bumi mengalami kehancuran. Partisipasi juga tidak dibuka secara lebih luas sehingga akses dan keadilan tidak menyentuh semua kelompok. Aspek kelembagaan juga tidak didesain engan lengkap dan ditegakkan secara penuh. Menurut Joseph E Stiglitz dalam bukunya
The Price of Inequality
, mengungkapkan bahwa ketimpangan pendapatan lebih sering terjadi sebagai akibat keputusan politis ketimbang konsekuensi dari pekerjanya kekuatan pasar atau makro ekonomi. Artinya, ketimpangan adalah buah dari kebijakan pemerintah sendiri.


Upaya Pemerintah Mengatasi Ketimpangan Ekonomi

Banyak langkah yang sudah ditempuh pemerintah untuk mengurangi ketimpangan termasuk melalui program transmigrasi, percepatan pembangunan kawasan tertinggal, pengembangan kawasan ekonomi khusus yang dimaksudkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui ekspor  produksi industri khusus dan liberalisasi perdagangan. Selain itu pembentukan kawasan perdagangan  bebas dan pelabuhan bebas. Lalu kawasan perngembangan ekonomi terpadu dan kerja sama subekonomi regional terakhir Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Intinya, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di daerah, meningkatkan integrasi dan interkonektivitas seluruh wilayah di Indonesia sehingga terjadi pemerataan pembangunan. Namun,  banyak program tersebut terhenti ditengah jalan dan banyak juga kritik yang ditujukan pada MP3EI. Untuk mengatasi ketimpangan perlu komitmen yang kuat dan suatu formula, pendekatan, inovasi, terobosan baru, mulai dari perubahan paradigma kebijakan pembanguna, ditopang kelembagaan yang mapan, infrastruktur dan insentif yang mendukung dan pengawasan ketat dan inmplementasi dilapangan. Selain itu pemerintah dalam menetukan agenda pembangunan jangan sampai mementingkan kepentingan politik, kartel usaha dan pihak luar


menurut saya, dari segi tingkat kesehatan harus lebih ditingkatkan lagi fasilitas kesehatannya dengan mengadakan acara-acara sosial seperti pengadaan pengobatan gratis bagi warga yang tidak mampu. dari segi pengangguran, sudah banyak masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau bahkan mereka tidak mempunyai pekerjaan, maka dari itu pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak. setelah semua itu terlaksana dengan baik maka tingkat kemiskinan di Indonesia semakin menurun.

Sumber :
 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar